HMI Komisariat Untan Nobar Film Dokumenter The Bajau dengan tema “Arunika dari Timur” | Kubu Raya Satu

HMI Komisariat Untan Nobar Film Dokumenter The Bajau dengan tema “Arunika dari Timur”

Senin, 20 Januari 2020, 07.48

Foto: HMI untan Nobar flm the bajau


Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fisip Untan mempersembahkan Nobar Film Dokumenter The Bajau dengan tema “Arunika dari Timur”  di Aula Teater Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalimantan Barat, Minggu,( 19/2020).

Sama halnya seperti Film Sexy Killer yang sama-sama di produksi oleh Dhandy D. Laksono Cs., Film Dokumenter The Bajau yang resmi di rilis sejak 10 Januari 2020 lalu mengundang banyak perhatian masyarakat, aktivis, jurnalis, dan pegiat literasi untuk menyaksikan dan membedah film tersebut.

The Bajau, sebuah film yang menceritakan tentang suku bajau sebagai aktor utama yang mengalami ketersisihan dalam segi sosial juga budaya. Suku bajau yang merupakan masyarakat nomaden hidup menyisiri perairan dan banyak tersebar di wilayah Indonesia, Malaysia, Dan Philipina.

Mata pencaharian utama ialah nelayan, mereka menghabiskan aktivitas kesehariannya untuk mengarungi samudara demi menangkap ikan guna menyambung kehidupan. Singkatnya film tersebut menceritakan tentang peradaban maritim Indonesia yang masih tersisa.

Novita Aprilia (Pjs Ketua Umum Hmi Fisip Untan) selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan “kegiatan nobar dan aksi kemanusiaan ini kami selenggarakan untuk menyambung perjuangan dari Watchdoc Dokumentary yang telah menguak fakta-fakta di Indonesia khususnya apa yang terjadi di alam dan kejadian tersebut tidak banyak diketahui oleh masyarakat," ungkapnya.


Lanjut Novita  mengatakan "bahwa dalam film yang berdurasi 80 menit tersebut cukup mengiris hati saya. Bagaimana tidak? Alam yang memberi kehidupan kepada manusia terus dieksploitasi melalui perusahaan tambang secara dekstruktif. Akibatnya terjadi ketidakseimbangan terhadap alam. Misalnya, laut yang semakin tercemar, matinya terumbu karang serta punahnya species ikan," tegasnya.

Selain itu, masyarakat bajau yang telah di mukimkan oleh pemerintah masih banyak didiskriminasi. Padahal jauh sebelum mereka menetap, mereka memiliki tradisi sendiri dari nenek moyang mereka. Mereka memang memiliki rumah didaratan, tapi kehidupannya tetap dilaut.


Novita berharap dengan diadakannya pemutaran Film The Bajau, dapat menyadarkan masyarakat untuk tetap menjaga dan merawat alam. Khususnya pemerintah agar bertindak tegas atas kejadian seperti yang dialami suku bajau, sebab pemerintah memiliki peran untuk mewujudkan keadilan.

“izin pendirian koorporasi atau perusahaan juga harus diawasi secara masif, jangan sampai pemerintah mengizinkan pendirian PT. untuk memajukan daerahnya, tapi mengorbankan masyarakat sebagai tumbalnya. Sebab alam adalah masa depan kita semua,” tutupnya.

TerPopuler